Monday, February 18, 2013

Merawat bakalan murai batu

Jika bakalan murai batu yang dibeli merupakan hasil pancingan, ada kemungkinan kailnya masih tertinggal dalam tenggorokan. Kalau hal ini tidak diketahui selama beberapa hari, bagian tubuh tersebut bisa mengalami  infeksi yang membuatnya malas makan.  Apabila kondisinya makin parah, tidak mustahil burung akan mati. Jadi berhati-hatilah saat membeli bakalan burung murai, terlebih di lapak-lapak dadakan atau pedagang yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.

Lain persoalan jika burung tersebut merupakan hasil pikatan jaring dan pulut. Anda bisa langsung masuk ke perawatan bakalan murai batu. Biasanya bakalan MH belum mengenal makanan buatan manusia (voer). Karena itu, burung perlu dilatih makan voer agar tidak menimbulkan kesulitan di kemudian hari, termasuk ketika pasokan extra fooding seperti kroto di pasaran sedang kosong.

Informasi mengenai cara melatih murai batu agar terbiasa dengan makanan buatan manusia (voer) bisa dibuka kembali dalam artikel Murai batu muda hutan, rawatan tepat cegah sekarat.
Dalam perawatannya, burung ini membutuhkan extra fooding (EF) berupa jangkrik, ulat bambu, kroto, dan ikan kecil. Pemberian EF harus rutin (setiap hari), dibarengi dengan pemberian suplemen atau vitamin. Bagi bakalan murai batu MH, menu EF biasa disantapnya saat masih berada di habitat aslinya: hutan. Tetapi suplemen tak pernah diperolehnya dalam bentuk seperti di dalam sangkar / kandang.


Suplemen mempercepat  adaptasi

Tujuan pemberian suplemen ini untuk menjaga daya tahan tubuhnya agar tidak cepat ngedrop karena perubahan pola makan dan jenis makanan yang berbeda antara hutan dan sangkar / kandang. Suplemen juga bisa mencegah burung dari kondisi stres, karena jika sampai stres bisa berakibat fatal:  cepat drop, rentan mengalami kelumpuhan mendadak, tidak mau makan atau minum, dan bulu-bulu tubuhnya lebih sering mengembang dengan pandangan mata berair dan sayu.

Untuk memastikan kecukupan vitamin, Anda bisa mencoba memberikan suplemen BirdVit. Sedangkan untuk memastikan kecukupan mineral bisa menggunakan BirdMineral. Vitamin dan mineral memiliki karakter unik. Jika kelebihan akan dikeluarkan dari tubuh (melalui urine), sehingga tidak membawa efek samping. Tetapi jika kekurangan dipastikan akan mengalami defisiensi vitamin dan mineral, dengan beberapa gejala seperti cepat drop, kelumpuhan mendadak, malas makan dan minum, bulu terlihat kusam dan sering mengembang, serta mata sayu dan berair.

Perlakuan lain yang tak pernah dialami bakalan murai batu MH adalah pengerodongan. Dalam pemeliharaan manusia, pengerodongan sangkar diperlukan agar bakalan  murai batu tidak mengalami ketakutan terhadap situasi dan  kondisi lingkungan yang baru, sehingga terbebas dari stres.

Selama beberapa hari, burung tetap dikerodong setiap hari agar lebih tenang  dahulu dan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Apabila sudah mulai bisa menyesuaikan dengan lingkungan baru, berarti burung sudah melewati masa kritis. Masa kritis biasanya berlangsung selama 12 hari sejak burung dibeli.

Apabila sudah melewati masa kritis, dan sudah mau makan voer (biasanya hingga hari ke-20 atau lebih), maka burung murai batu ini sudah bisa dikatakan “setengah jadi”. Inilah saatnya melakukan proses penjinakan dan  pemasterannya. Dari sinilah Anda bisa meneruskannya ke tahap berikutnya, yaitu Perawatan burung murai batu.

Sumber :
Omkicau.com



Jika bakalan murai batu yang dibeli merupakan hasil pancingan, ada kemungkinan kailnya masih tertinggal dalam tenggorokan. Kalau hal ini tidak diketahui selama beberapa hari, bagian tubuh tersebut bisa mengalami  infeksi yang membuatnya malas makan.  Apabila kondisinya makin parah, tidak mustahil burung akan mati. Jadi berhati-hatilah saat membeli bakalan burung murai, terlebih di lapak-lapak dadakan atau pedagang yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.

Lain persoalan jika burung tersebut merupakan hasil pikatan jaring dan pulut. Anda bisa langsung masuk ke perawatan bakalan murai batu. Biasanya bakalan MH belum mengenal makanan buatan manusia (voer). Karena itu, burung perlu dilatih makan voer agar tidak menimbulkan kesulitan di kemudian hari, termasuk ketika pasokan extra fooding seperti kroto di pasaran sedang kosong.

Informasi mengenai cara melatih murai batu agar terbiasa dengan makanan buatan manusia (voer) bisa dibuka kembali dalam artikel Murai batu muda hutan, rawatan tepat cegah sekarat.
Dalam perawatannya, burung ini membutuhkan extra fooding (EF) berupa jangkrik, ulat bambu, kroto, dan ikan kecil. Pemberian EF harus rutin (setiap hari), dibarengi dengan pemberian suplemen atau vitamin. Bagi bakalan murai batu MH, menu EF biasa disantapnya saat masih berada di habitat aslinya: hutan. Tetapi suplemen tak pernah diperolehnya dalam bentuk seperti di dalam sangkar / kandang.


Suplemen mempercepat  adaptasi

Tujuan pemberian suplemen ini untuk menjaga daya tahan tubuhnya agar tidak cepat ngedrop karena perubahan pola makan dan jenis makanan yang berbeda antara hutan dan sangkar / kandang. Suplemen juga bisa mencegah burung dari kondisi stres, karena jika sampai stres bisa berakibat fatal:  cepat drop, rentan mengalami kelumpuhan mendadak, tidak mau makan atau minum, dan bulu-bulu tubuhnya lebih sering mengembang dengan pandangan mata berair dan sayu.

Untuk memastikan kecukupan vitamin, Anda bisa mencoba memberikan suplemen BirdVit. Sedangkan untuk memastikan kecukupan mineral bisa menggunakan BirdMineral. Vitamin dan mineral memiliki karakter unik. Jika kelebihan akan dikeluarkan dari tubuh (melalui urine), sehingga tidak membawa efek samping. Tetapi jika kekurangan dipastikan akan mengalami defisiensi vitamin dan mineral, dengan beberapa gejala seperti cepat drop, kelumpuhan mendadak, malas makan dan minum, bulu terlihat kusam dan sering mengembang, serta mata sayu dan berair.

Perlakuan lain yang tak pernah dialami bakalan murai batu MH adalah pengerodongan. Dalam pemeliharaan manusia, pengerodongan sangkar diperlukan agar bakalan  murai batu tidak mengalami ketakutan terhadap situasi dan  kondisi lingkungan yang baru, sehingga terbebas dari stres.

Selama beberapa hari, burung tetap dikerodong setiap hari agar lebih tenang  dahulu dan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Apabila sudah mulai bisa menyesuaikan dengan lingkungan baru, berarti burung sudah melewati masa kritis. Masa kritis biasanya berlangsung selama 12 hari sejak burung dibeli.

Apabila sudah melewati masa kritis, dan sudah mau makan voer (biasanya hingga hari ke-20 atau lebih), maka burung murai batu ini sudah bisa dikatakan “setengah jadi”. Inilah saatnya melakukan proses penjinakan dan  pemasterannya. Dari sinilah Anda bisa meneruskannya ke tahap berikutnya, yaitu Perawatan burung murai batu.

Sumber :
Omkicau.com



0 comments:

Post a Comment

Popular Posts